
“Ternyata.. jadi guru ngaji bukan cuma soal ngajarin tajwid, tapi..” Jeda Kang Yaman pas ditanya soal kesulitannya mengajar.

Bagi Kang Yaman menjadi guru ngaji berarti tetap membuka pintu setiap hari untuk sekitar 30 anak-anak di Kampung Ciawi Surat, Banjarwangi.
Ia harus terima kenyataan mushola Al-Muhtariah tempat ia biasa ngajar hampir runtuh, jadi tempat mengaji sementara harus dialihkan ke rumahnya. Ditambah Al-Qur’an yang dipake anak-anak buat belajar banyak yang sudah tidak lengkap. Halaman per halaman diawal dan akhir Al-Quran nggak bisa dipake anak-anak yang baru belajar Al-Fatihah dan surah-surah pendek.

Anak-anak yang rata-rata masih kecil berdatangan buat belajar mengaji, walopun tempat mereka belajar jauh dari kata layak. Kondisi atap mushola bocor saat hujan, belum tersedia air yang cukup, sementara fasilitas tempat wudhu dan MCK juga masih sangat terbatas.
Di tengah keterbatasan itu, Kang Yaman tetap berusaha membuat anak-anak bisa belajar. Ia mengajar dengan fasilitas seadanya sementara di rumah, mendampingi anak-anak belajar dengan Al-Qur'an yang sudah lusuh, sekaligus menjadi sosok yang anak-anak temui dimasa sulit.

Ada kalanya Kang Yaman jadi tempat anak-anak yatim muridnya mengadu untuk makan kalo mereka lagi lapar. Mengadu ke orang dewasa seperti kang Yaman rasanya cukup aman. Namun, Kang Yaman juga harus memikirkan bagaimana dirinya bisa bertahan hidup.

Setiap hari ia bekerja sebagai ojol untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pagi berangkat mencari penumpang, malam baru pulang. Di sela-sela mencari nafkah itulah ia tetap menyempatkan diri mengajar anak-anak secara sukarela. Penghasilannya sendiri jauh dari cukup, tetapi ia memilih tetap membagi waktu, tenaga, dan apa yang ia punya agar kegiatan belajar mengaji di kampungnya tidak berhenti.
Mungkin benar, kita nggak kekurangan orang baik. Kadang, orang-orang baik hanya tidak punya cukup kemampuan untuk memperbaiki semuanya sendirian. Hal inilah yang dihadapi Kang Yaman, mengirit hasil ngojol untuk disisihkan sebagian bangun mushola dan mencari Al-Qur'an untuk 30 anak muridnya. Ia gak ragu-ragu mengganjal perut dengan satu bungkus roti biar niatnya ini cepat kesampean.

Bagi anak-anak muridnya, belajar agama sejak kecil bukan sekadar soal bisa membaca huruf demi huruf, tetapi tentang membentuk kebiasaan dan nilai yang akan mereka bawa ketika tumbuh besar. Kang Yaman sudah memberikan tenaga dan waktunya untuk anak-anak kampung Ciawi Surat. Tetapi memperbaiki atap mushola yang bocor dan hampir roboh, menyediakan Al-Qur’an baru, menyediakan air bersih, membangun tempat wudhu dan MCK, bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan seorang guru ngaji yang juga harus bekerja sebagai ojol setiap hari. Karena itu, perjuangan Kang Yaman membutuhkan dukungan dari lebih banyak orang.
Temen-temen bantu Kang Yaman menghadirkan tempat belajar dan beribadah yang lebih layak untuk 30 anak di mushola yuk. Bantuan yang temen-temen berikan bukan hanya untuk memperbaiki sebuah bangunan, tetapi juga menjaga agar anak-anak Ciawi Surat tetap punya tempat untuk belajar mengaji, beribadah sejak usia dini.
