
“Berat banget karena..saya gak bisa lihat, tapi harus keliling jualan air, 1 jerigen itu bisa 5 kilo sendiri… dan sering bawa sampai 20 kilo. Tapi dari nenek gak makan... mending saya nekat keliling” Cerita Rangga.
Lahir sebagai tunanetra sejak kecil membuat Asep Rangga harus menjalani hidup dalam kegelapan. Di usianya yang baru 10 tahun, fisik kecilnya terpaksa memikul beban berat demi mencari nafkah di jalanan. Tanpa bisa melihat jalan yang dilaluinya, Rangga nekat memikul beberapa jerigen air yang bobot totalnya mencapai 20 kilogram untuk dijajakan keliling kampung.

Nggak jarang Rangga jatuh di jalan karena tidak bisa melihat. Air yang dipikul tumpah dan Ia harus balik lagi ke sumber air bersih yang jauh dari rumah-rumah tetangganya. Sesulit itu hidupnya tetapi Rangga tidak pernah kehilangan senyum di wajahnya. Seakan-akan tidak punya beban berat di pundaknya.

Langkah nekat Rangga lakukan demi membela sang nenek—sosok yang merawatnya dengan penuh ketulusan sejak kecil. Kini sang nenek sudah semakin tua, renta, dan tak lagi mampu bekerja untuk mencari sesuap nasi. Menolak berpasrah pada keadaan, Ia mengambil alih peran sebagai tulang punggung keluarga demi menyambung hidup mereka berdua.
“Ini cara saya bantu nenek, biar gak bergantung sama orang” Ucapnya penuh keyakinan.

Setiap hari Rangga mengisi jerigen besar dan menjual air bersih tersebut dengan harga Rp2.000 per jerigen. Karena hasil jualannya sangat minim dan tidak menentu, Rangga dan neneknya sering bertahan hidup dengan rasa lapar karena nggak mampu membeli beras atau lauk pauk yang layak.
“Kadang kita makan seadanya, yang penting cukup membuat bertahan. Yang penting nenek saya gak kelaparan,” cerita Rangga.

Kondisi tempat tinggal mereka pun sangat memprihatinkan. Rangga dan neneknya harus berteduh di sebuah gubuk sederhana dengan atap bocor, dinding rapuh, dan lantai yang masih beralas tanah. Di tengah keterbatasan yang menghimpit, Rangga tidak pernah mengeluh dan hanya menyimpan satu impian tulus untuk neneknya.
“Saya cuma ingin nenek gak lagi susah” Ungkapnya sedih melihat neneknya yang semakin bertambah tua.

Perjuangan Rangga yang nggak mau menjadi beban meski dalam keterbatasan penglihatan adalah bukti kasih sayangnya untuk neneknya yang menjadi satu-satunya keluarga yang ia punya dan merawatnya sejak kecil. Uluran tangan kita hari ini bisa sangat membantu memenuhi kebutuhan makanan, menyediakan obat dan perawatan untuk nenek Rangga, juga merenovasi tempat tinggal yang lebih layak bagi mereka. Mari kita wujudkan harapan Rangga dan muliakan senja usia neneknya dengan cara:
