
“Cuma dapet 4 ribu dari pengepul tadi..nggak cukup beli beras kang” kata Rizki dengan mata polosnya.

Di usia yang masih sangat belia, Rizki harus menjalani kehidupan yang tidak semestinya ia tanggung.
Ayahnya pergi tanpa kabar, bahkan Rizki tidak tahu lagi di mana keberadaannya.
Sementara ibunya tidak pulang-pulang ke rumah.
Ia tinggal sendiri, di rumah yang sederhana..

Tanpa sosok orang tua yang membimbing, Rizki terpaksa belajar mandiri dan berjuang sendiri untuk bertahan hidup.
Setiap pagi sebelum berangkat sekolah, Rizki membawa termos berisi es lilin titipan tetangga.

Ia menjualnya di jalan dan di sekolah demi mendapatkan upah harian yang sangat kecil.
Tak jarang, Rizki juga mendatangi tempat-tempat ramai seperti pasar untuk menjajakan dagangannya.
Sepulang sekolah, Ia melanjutkan hari dengan mencari barang bekas seperti botol plastik, kardus, dan kaleng untuk dijual ke pengepul.
Dalam sehari, penghasilan Rizki paling banyak hanya Rp15.000.
Uang sekecil itu harus cukup untuk membeli beras dan memenuhi kebutuhan harian.
Di tengah keterbatasan itu, Rizki hanya memiliki satu buku untuk mencatat seluruh pelajaran di sekolah.
Sepatunya pun sudah rusak, namun tetap dipakainya karena tidak ada pengganti.
Sepatu satu-satunya ini pemberian dari orang lain karena Rizki tidak mampu beli keperluan sekolahnya.

Meski hidup serba kekurangan, Rizki tidak pernah kehilangan semangat untuk sekolah.
Ia tetap ingin meraih cita-citanya dan tak sekalipun mengeluh atas keadaan yang ia jalani.
Ia ingin suatu hari jadi pengusaha besar.
Semangat itulah yang menjadi satu-satunya pegangan Rizki di tengah hari-hari yang berat.
Mari bantu Rizki agar bisa menjalani hidup yang lebih layak.
Sedikit rezeki yang kita berikan bisa membantu Rizki mendapatkan kebutuhan sekolah seperti buku, tas, dan sepatu, serta kebutuhan harian seperti makanan yang layak dan bergizi.
Kebaikan temen-temen hari ini bisa menjadi masa depan yang lebih baik untuk Dek Rizki.
Yuk bantu secara nyata dengan cara:
